Archive for the ‘Tak Berkategori’ Category

Sistem Bilangan

28 October, 2014

Konversi Sistem Bilangan

Untuk mengetahui nilai sebuah sistem bilangan dari sistem bilangan yang lain harus melalui proses konversi bilangan.

  1. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem bilangan Binari
  2. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem bilangan Oktal
  3. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem bilangan Hexa
  4. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Desimal
  5. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Binari
  6. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Hexa
  7. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Desimal
  8. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Binari
  9. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Oktal
  1. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem Bilangan Binari

Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan binari dapat dilakukan dengan:

a.Metode Sisa ( reminder method)

Cara Metoda ini adalah dengan membagi nilai yang dicari dengan dasar bilangan, kemudian sisanya dituliskan terpisah. Selanjutnya nilai yang dicari dikurangi dengan hasil pembagian. Lakukan proses ini sampai sisa bilangan yang dicari bernilai 0.

Contoh : Konversi bilangan desimal 35 ke bilangan binari

35 : 2 = 17 sisa 1

17 : 2 =   8 sisa 1

8 : 2 =   4 sisa 0

4 : 2 =   2 sisa 0

2 : 2 =   1 sisa 0

1 : 2 =   0 sisa 1

Hasil : tuliskan mulai dari sisa yang paling bawah : 100011

Yakinkan kembali hasil konversi dengan cara :

100011 = 1 x 25 + 0 x 24 +0 x 23 + 0 x 22 +1 x 21+ 1 x 20

= 32+0+0+0+ 2+ 1

= 35

b. Menjumlahkan pangkat 2

Cara ini adalah mencari hasil perpangkatan bilangan dua dengan sebuah bilangan yang mendekati dengan nilai yang di cari tetapi nilainya lebih kecil. Selanjutnya kurangi bilangan dicari dengan bilangan yang terdekat tersebut. Tahap selanjutnya lakukan proses yang sama sampai sisa pengurangannya bernilai 0.

Misalnya: untuk mencari bilangan binari dari bilangan desimal 35 adalah dengan cara :

Bilangan yang mendekati 35 adalah 32 = 25

Kurangi 35 – 32 = 3

Bilangan yang mendekati   3 adalah   2 = 21

Kurangi     3– 2 = 1

Bilangan yang mendekati 1 adalah     1 = 20

Selanjutnya, susunlah secara berurutan nilai tersebut secara berurutan dan kemudian jumlahkan bilangan binarinya.

20    =   1                                      1

21    =   2                     10

25    = 32                           100000

100011

  1. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem bilangan Oktal
  • Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan oktal dapat dilakukan dengan cara :
  • membagi nilai yang dicari dengan dasar bilangan, kemudian sisanya dituliskan terpisah. Selanjutnya nilai yang dicari dikurangi dengan hasil pembagian. Lakukan proses ini sampai sisa bilangan yang dicari bernilai 0.

Misalnya untuk mencari bilangan oktal dari bilangan desimal 47 adalah dengan cara :

47 : 8 = 5 sisa 7

5 : 8 = 0 sisa 5

Hasil dari konversi bilangan desimal 47 ke bilangan oktal adalah 57.

3. Konversi Sistem Bilangan Desimal ke Sistem bilangan Hexa

Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan hexa dapat dilakukan dengan cara :

membagi nilai yang dicari dengan dasar bilangan, kemudian sisanya dituliskan terpisah. Selanjutnya nilai yang dicari dikurangi dengan hasil pembagian. Lakukan proses ini sampai sisa bilangan yang dicari bernilai 0.

Misalnya untuk mencari bilangan hexadesimal dari bilangan desimal 47 adalah dengan cara :

47 : 16 = 2 sisa 15 = F

2 : 16 = 0 sisa 2

Hasil dari konversi bilangan desimal 47 ke bilangan hexa adalah 2F.

4. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Desimal

Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan Oktal ke sistem bilangan desimal adalah dengan mengalikan digit angka yang dicari dengan bilangan dasar 8 dengan pangkat sesuai dengan urutan dimana posisi digitnya berada.

Misal : akan mencari nilai Oktal 267 ke dalam nilai desimal .

267 = (2 x 82 ) + (6 x 81 ) +(7 x 80 )

= (2 x 64) + (6 x 8) + (7 x   1)

=          128   +   48     +   7

=            183

Jadi bilangan desimal dari bilangan Oktal 267 adalah 183.

 5. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Binari 

Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan oktal ke sistem bilangan binari adalah mengkonversikan langsung setiap digit oktal ke bilangan ke dalam biner.

Misal : akan mencari nilai Oktal 267 ke dalam nilai biner.

2 = 0010

6 = 0101

7 = 0111

Jadi bilangan binari dari bilangan oktal 267 adalah 0010 0101 0111.

6. Konversi Sistem bilangan Oktal ke Sistem Bilangan Hexa

Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan oktal ke sistem bilangan hexa adalah mengkonversikan langsung setiap digit oktal ke bilangan ke dalam biner terlebih dahulu, hasil konversi tersebut kemudian di potong sebangak 4 digit yang dimulai dari sisi sebelah kanan. Hasil pemotongan digit baru dikonversikan ke dalam bilangan hexa.

Misal : akan mencari nilai Oktal 1161 ke dalam nilai hexa.

1 = 001 ,      1 = 001,      6 = 110   1 = 001

Jadi bilangan binari dari bilangan Oktal 1167 adalah 001001110001

Potong hasil konversi ini dalam 4 digit dimulai dari kanan dan konversikan ke dalam bilangan biner. Karena digit terkiri hanya maka ditambahkan nilai 0 sebanyak 3 buah agar menjadi 4 digit.

0001= 1 , 0111 = , 0100 =

Jadi bilangan oktal 1161 ke bilangan hexa adalah 0A7.

7. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Desimal

  • Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan hexa ke sistem bilangan desimal adalah dengan mengalikan digit angka yang dicari dengan bilangan dasar 16 dengan pangkat sesuai dengan urutan dimana posisi digitnya berada.

Misal : akan mencari nilai hexa 2F7 ke dalam nilai desimal .

2F7 = (2 x 162 ) + (F x 161 ) + (7 x 160 )

= (2 x 256) + (15 x 16 ) + (7 x 1 )

=       512     +     240       +     7

=   759

Jadi bilangan desimal dari bilangan hexa 2F7 adalah 759.

8. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Binari

  • Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan hexa ke sistem bilangan binari adalah mengkonversikan langsung setiap digit hexa ke bilangan ke dalam biner.

Misal : akan mencari nilai hexa 2F7 ke dalam nilai biner.

2 = 0010

F   = 1111

7   = 0111

Jadi bilangan binari dari bilangan hexa 2F7 adalah 0010 1111 0111.

9. Konversi Sistem bilangan Hexa ke Sistem Bilangan Oktal

  • Untuk mendapatkan hasil konversi sistem bilangan hexa ke sistem bilangan oktal adalah mengkonversikan langsung setiap digit hexa ke bilangan ke dalam biner terlebih dahulu, hasil konversi tersebut kemudian di potong sebangak 3 digit yang dimulai dari sisi sebelah kanan. Hasil pemotongan digit baru dikonversikan ke dalam bilangan oktal.

Misal : akan mencari nilai hexa 2F7 ke dalam nilai oktal.

2 = 0010 ,   F = 1111,   7 = 0111

Jadi bilangan binari dari bilangan hexa 2F7 adalah 001011110111.

Potong hasil konversi ini dalam 3 digit dimulai dari kanan dan konversikan ke dalam bilangan oktal.

001 = 1 , 011 = 3,   110 = 6. 111 = 7

Jadi bilangan oktal dari bilangan hexa 2F7 adalah 1367.

Advertisements

Social Engineering

28 October, 2014

Social Engineering Generic

RPJMN-III (2015-2019)

20 August, 2014

Memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis pada SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas serta kemampuan IPTEK.

Jas dan peci

20 August, 2014

jas peci

Mengenal Dasar Kecerdasan Manusia

8 November, 2013

Anda mungkin sudah tidak asing dengan namanya Kecerdasan Manusia. Jika pada awalnya kecerdasan manusia hanya diukur dari kecerdasan pikiran atau IQ (Intelligence Quotients), Namun kecerdasan ini mengalami pergeseran dimana kecerdasan manusia tidak lagi mampu diukur hanya melalui kecerdasan pikiran namun banyak lagi kecerdasan lain yang turut mempengaruhi kesuksesan seorang anak manusia.

 
Untuk itu Tidak perlu berpanjang lebar, tulisan ini akan mengantarkan kita Mengenal Dasar Kecerdasan Manusia yang memberikan andil dalam membentuk manusia sejati. Kecerdasan tersebut adalah antara lain :
 
  1. IQ (Intelligence Quotients) Kecerdasan yang dikenal awal sebagai bentuk ukuran kecerdasan yang berupa kemampuan manusia untuk berpikir, menalar dalam hal ini lebih menggunakan akal atau pikiran dan biasanya kita sebut orang yang pintar. lebih banyak dikembangkan oleh tokoh-tokoh dari negeri Barat.  selengkapnya tentang IQ
  2. EQ (Emotional Quotients) ternyata pintar secara pikiran saja tidak mampu membuat manusia menjadi sukses. Ada juga yang pintar-pintar namun mampu menjadi sukses, ini yang kita kenal kemudian dengan Kecerdasan Emosional. Kecerdasan ini dapat meliputi tentang semangat, ketekunan, pengendalian diri,menjaga hubungan baik dengan sesama lainnya. selengkapnya tentang EQ
  3. (Spiritual Quotients) kemudian muncul lagi kecerdasan spiritual yakni yang kita kenal dengan kecerdasan jiwa, bahwa ada hal lain turut mempengaruhi kesuksesan seseorang yaitu kemampuan individu untuk memaknai kehidupan dari hati dengan ketenangan dan kedamaian hati serta kedekatan dengan Sang Maha Pencipta. selengkapnya tentang SQ
  4. ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) Kecerdasan emosi dan spiritual merupakan gabungan kecerdasan emosi dan spiritual. Kedua kecerdasan ini membentuk kesuksesan dengan kemampuan menyeimbangkan antara hubungan kepada Sang Maha Pencipta dengan hubungan sesama manusia.

******(sumber: sahabat Indonesia Bangkit)

Politik Pencitraan Mendekati Kemunafikan

8 November, 2013
Anda tentu sudah mengetahui politik pencitraan itu baik yang dibangun melalui kampanye positif yang dibangun oleh sang calon untuk meningkatkan popularitasnya maupun kampanye negatif yang dibangun untuk menjatuhkan lawan sang calon. Untuk itu tulisan ini hanya untuk mengingatkan kita semua semua bahwa politik pencitraan tersebut mendekati kemunafikan.
Politik pencitraan mulai menggeliat saat kita mengenal pemilihan langsung oleh masyarakat. Presiden, Gubernur dan Bupati Walikota langsung dipilih oleh masyarakat yang sebelumnya dipilih oleh DPR/DPRD. Perubahan ini tentu membuat figur calon sangat menentukan dalam kemenangan sehingga memuncul politik pencitraan sehingga figur calon menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Media, Iklan, baliho slogan, visi misi normatif dibangun untuk memperkuat politik pencitraan sang calon sehingga layak jual di masyarakat.
Munafik sendiri menurut kamus Bahasa Indonesia adalah berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Untuk dapat diringkas bahwa munafik itu adalah orang suka berbohong, agama apapun baik Islam, Protestan, Khatolik, Hindu, Budha maupun Konghucu melarang kita untuk bersikap munafik. Anda pun sudah dapat pula membayangkan seperti apa jika seorang pemimpin mempunyai sifat munafik? Dan seperti apa ciri-ciri orang munafik Andapun tentu tahu. Anda pun tentu tidak ingin dipimpin oleh orang yang munafik. Ucapan, dan tindakannya penuh kepalsuan dan tidak ada yang dapat dipercaya. Mungkin lagu munafik dari GIGI bisa mengingatkan kita, dan hal ini pula yang menyebabkan kenapa kita lebih konsen terhadap kontrak politik dari pada janji politik.
Sebagaimana telah Anda baca diatas bahwa politik pencitraan dibangun bisa melalui kampanye positif (Kampanye putih )ataupun kampanye negatif (kampanye hitam). Jika kampanye hitam tentu Anda sepakat bahwa hal ini jelas dilakukan oleh orang-orang yang munafik dan penuh kebohongan, karena informasi yang dikembangkan adalah kejelekan, kekurangan seseorang yang dekat dengan fitnah dan belum jelas tentang kebenarannya.
Sedangkan kampanye positif atau citra positif yang dibangun untuk meningkatkan popularitas sang calon, apakah dapat dikatakan kampanye positif juga dekat dengan kemunafikan? Untuk hal ini jawabannya tentu dekat dan tidak dekat . Dekat dengan kemunafikan jika citra positif itu dibangun atas dasar kebohongan, dimana citra positif dibangun secara berlebih-lebihan dan tidak menggambarkan jati diri sebenarnya calon pemimpin tersebut. Membuat janji-janji politik yang tidak direalisasikan, membuat visi misi yang dia sendiri belum dapat membayangkan seperti apa ujungnya. Berbuat atau berperilaku yang bertujuan untuk menarik simpat masyarakat padahal aslinya tidak demikian dan bahkan saat setelah terpilih perilaku positif untuk menarik simpati tadi malah ditinggalkan. Kalau boleh kita ambil contoh seperti prilaku dermawan yang mendadak, Perilaku mendadak ramah dengan masyarakat dan banyak lagi yang dapat Anda amati, termasuk kondisi calon pemimpin yang seakan-akan dia teraniaya padahal kondisi itu memang diciptakan sendiri..
Sedangkan kampanye positif yang tidak dekat dengan kemunafikan adalah politik pencitraan yang dibangun atas dasar kewajaran dan sesuai dengan jati diri calon pemimpin tersebut. Bagaimana perilakunya sehari-sehari demikianlah hal tersebut ditampilkan. Misalkan sehari-harinya memang suka berderma dan ketika menjelang pemilihan dia dikampanyekan dermawan, biasanya suka blusukan dan dekat dengan masyarakat dan ketika kampanye dia blusukan dan dekat masyarakat tentu kita memandang ini sebagai sebuah hal yang wajar.
Dan mudah-mudahan Anda juga sepakat bahwa kampanye positif yang satu ini bisa kita katakan tidak dekat dengan kemunafikan walaupun perbuatan, ucapannya tidak mencerminkan perbuatannya selama ini. Namun sang calon mempunyai niat untuk memperbaikinya dan merubahnya sehingga perbuatannya selama masa kampanye tersebut memang tersu dijalankannya selama masa dia terpilih sebagai pemimpin. Kita contohkan seorang calon pemimpin yang selama ini tidak dekat dengan masyarakat, menjelang mau kampanye atau dekat dengan pemilihan mendadak sang calon menyapa masyarakat kepasar, ke kawasan kumuh namun setelah dia terpilih perbuatannya ini tetap diteruskannya selama dia menjabat setelah terpilih.

Dari hal diatas dapat kita simpulkan dan mudah-mudahan Anda juga sepakat bahwa Politik Pencitraan sangat dekat dengan kemunafikan sehingga sudah saatnya dihindari terutama menjelang Pemilu 2014 dan Pilpres 2014. Akan tetap bukan berarti politik pencitraan dihilangkan karena masih ada poin positifnya dan boleh dikatakan tidak dekat dengan kemunafikan. Namun hal ini perlu dijaga jangan sampai kita dikecewakan sehingga perlu adanya kontrak politik tidak sekedar janji politik demi terwujudnya Indonesia baru dengan berubah dan bangkit.

Bagaimana menurut anda setujukah Anda dengan tulisan ini, jika ada hal yang kurang atau lebih silakan disampaikan karena hal ini untuk kepentingan bersama agar masyarakat menjadi lebih terbuka dalam menatap Pemilu dan Pilpres 2014 tidak terbawa oleh politik pencitraan yang dikondisikan oleh sekelompok golongan tanpa memandang kepentingan dan kemaslahatan umum.

******(sumber: media cara Indonesia Bangkit)

Menjaga Kesehatan Gigi

8 November, 2013

Untuk menjaga gigi dan mulut tetap sehat, beberapa hal yang kadang terdengar remeh-perlu dilakukan. Berikut tips soal bagaimana merawat gigi Anda:

1. Gosoklah gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Kapan waktu yang tepat untuk menggosok gigi? Setelah makan pagi dan sebelum tidur.

2. Sekali dalam seminggu, berkumurlah dengan obat kumur. Ini dapat membantu mencegah terjadinya plak dan karang gigi.

3. Sikat gigi dengan baik dan benar, yaitu dengan menjangkau ke seluruh permukaan gigi dengan arah dari gusi ke gigi.

4. Berhati-hati dalam menggunakan pemutih gigi.

5. Pilih sikat gigi yang mempunyai bulu sikat lembut.

6. Kurangi konsumsi makanan yang mengandung gula seperti permen, atau makanan bertepung. Sisa-sisa makanan ini dapat melekat pada gigi.

7. Konsumsi buah dan sayur yang dapat membersihkan gigi seperti apel, wortel, dan seledri.

8. Batasi anggur merah, kopi, dan teh.

9. Berhenti merokok.

10. Lakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali secara rutin.

****** (sumber: WHO)

Human Factor (terhadap ilmu pengetahuan atau teknologi)

20 September, 2011

Bidang multidisiplin menggabungkan kontribusi dari psikologi, teknik, desain, industri, statistik, riset operasi, dan antropometri. Ini adalah istilah yang mencakup:

  • Ilmu pemahaman sifat-sifat kemampuan manusia (Human Factors Sains).
  • Penerapan pemahaman ini untuk desain, pengembangan dan penyebaran sistem dan layanan (Human Factors Engineering).
  • Seni menjamin keberhasilan penerapan Teknik Faktor Manusia untuk sebuah program (kadang-kadang disebut sebagai Integrasi Faktor Manusia ). Hal ini juga dapat disebut ergonomi.

Secara umum, faktor manusia adalah fisik atau kognitif properti dari seorang individu atau sosial perilaku yang spesifik untuk manusia dan pengaruh fungsi sistem teknologi serta manusia-lingkungan keseimbangan.

Dalam interaksi sosial, penggunaan istilah menekankan faktor manusia sifat sosial yang unik atau karakteristik manusia.

Faktor manusia melibatkan studi tentang semua aspek dari cara manusia berhubungan dengan dunia di sekitar mereka, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja operasional, keselamatan, melalui biaya hidup dan / atau adopsi melalui peningkatan pengalaman pengguna akhir.

Istilah faktor manusia dan ergonomi hanya telah secara luas digunakan pada zaman terakhir; asal lapangan adalah dalam desain dan penggunaan pesawat udara selama Perang Dunia II untuk meningkatkan keselamatan penerbangan . Hal itu mengacu pada psikolog dan ahli fisiologi bekerja pada waktu dan pekerjaan yang mereka lakukan bahwa istilah “diterapkan psikologi” dan “ergonomi” pertama kali diciptakan. Bekerja dengan Elias Porter , Ph.D. dan lain-lain dalam RAND Corporation setelah Perang Dunia II diperpanjang konsep-konsep ini.

“Sebagai berpikir berlangsung, sebuah konsep baru yang dikembangkan -. Bahwa adalah mungkin untuk melihat sebuah organisasi seperti sebuah sistem pertahanan udara, manusia-mesin sebagai organisme tunggal dan bahwa adalah mungkin untuk mempelajari perilaku seperti organisme itu iklim untuk terobosan “.

Spesialisasi dalam bidang ini meliputi ergonomi kognitif, kegunaan, manusia komputer/interaksi mesin manusia, dan rekayasa pengalaman pengguna. Istilah baru sedang dihasilkan sepanjang waktu. Misalnya, “pengguna insinyur sidang” mungkin mengacu pada faktor manusia

profesional yang mengkhususkan diri dalam uji coba pengguna. Meskipun perubahan nama, faktor manusia profesional berbagi visi yang mendasari bahwa melalui penerapan pemahaman tentang faktor manusia desain peralatan, sistem dan metode kerja akan ditingkatkan, secara langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Faktor manusia praktisi datang dari berbagai latar belakang, meskipun sebagian besar mereka adalah psikolog (rekayasa, kognitif, persepsi, dan eksperimental) dan fisiologi. Desainer (industri, interaksi, dan grafis), antropolog, ahli komunikasi teknis dan ilmuwan komputer juga berkontribusi. Meskipun beberapa praktisi memasuki bidang faktor manusia dari disiplin lain, baik MS dan Ph.D. derajat di Rekayasa Faktor Manusia yang tersedia dari beberapa universitas di seluruh dunia.

Sejarah formal Teknik Faktor Manusia Amerika

Sejarah resmi menggambarkan kegiatan dalam urutan kronologis dikenal. Hal ini dapat dibagi menjadi 5 penanda:

Sebelum Perang Dunia I tes hanya manusia untuk kompatibilitas mesin adalah trial and error. Jika manusia berfungsi dengan mesin, ia diterima, jika tidak ia ditolak. Ada perubahan signifikan dalam kepedulian terhadap manusia selama perang sipil Amerika. Kantor paten AS khawatir apakah diproduksi massal seragam dan senjata baru yang dapat digunakan oleh orang-orang infanteri. Perkembangan selanjutnya adalah ketika Amerika penemu Simon Danau diuji operator selam untuk faktor psikologis, diikuti oleh penelitian ilmiah pekerja. Ini merupakan upaya yang didedikasikan untuk meningkatkan efisiensi manusia di tempat kerja. Studi ini dirancang oleh FW Taylor . Langkah berikutnya adalah derivasi waktu formal dan studi gerak dari penelitian Frank Gilbreth, Sr dan Lillian Gilbreth .

Perkembangan selama Perang Dunia I

Dengan terjadinya Perang Dunia I, peralatan yang lebih canggih dikembangkan. Ketidakmampuan personil untuk menggunakan sistem seperti ini menyebabkan peningkatan minat dalam kemampuan manusia. Sebelumnya fokus psikologi penerbangan adalah pada penerbang sendiri. Tetapi sebagai berjalannya waktu fokus bergeser ke pesawat, khususnya, desain kontrol dan menampilkan, efek dari faktor ketinggian dan lingkungan pada pilot. Perang melihat munculnya penelitian aeromedical dan kebutuhan untuk pengujian dan metode pengukuran. Namun, perang tidak menciptakan Rekayasa Faktor Manusia (HFE) disiplin, seperti. Alasan disebabkan ini adalah teknologi yang tidak sangat maju pada waktu dan keterlibatan Amerika dalam perang hanya berlangsung selama 18 bulan.

Perkembangan antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II

Periode ini melihat perkembangan yang relatif lambat dalam HFE. Meskipun, studi tentang perilaku pengemudi mulai mendapatkan momentum selama periode ini, seperti Henry Ford mulai menyediakan jutaan orang Amerika dengan mobil. Perkembangan lain besar selama

periode ini adalah kinerja penelitian aeromedical. Pada akhir Perang Dunia I, dua laboratorium penerbangan didirikan, satu di Brooks AURI Base, Texas dan yang lainnya di luar bidang Wright dari Dayton, Ohio. Banyak tes dilakukan untuk menentukan karakteristik dibedakan pilot sukses dari yang gagal. Selama awal 1930-an, Link Edwin mengembangkan simulator penerbangan pertama. Tren ini terus berlanjut dan simulator yang lebih canggih dan alat uji dikembangkan. Perkembangan lain yang signifikan di sektor sipil, dimana efek iluminasi pada produktivitas pekerja diperiksa. Hal ini menyebabkan identifikasi Efek Hawthorne , yang menunjukkan bahwa faktor motivasi secara signifikan dapat mempengaruhi kinerja manusia.

Perkembangan selama Perang Dunia II

Dengan terjadinya Perang Dunia II, itu tidak mungkin lagi untuk mengadopsi prinsip Tayloristic pencocokan individu untuk pekerjaan yang sudah ada sebelumnya. Sekarang desain peralatan harus memperhitungkan batasan-batasan manusia dan mengambil keuntungan dari kemampuan manusia. Perubahan ini membutuhkan waktu untuk datang ke tempatnya. Ada banyak penelitian dilakukan untuk menentukan kemampuan manusia dan keterbatasan yang harus dicapai. Banyak penelitian ini melepas mana penelitian aeromedical antara perang telah tinggalkan. Sebuah contoh dari ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Fitts dan Jones (1947), yang mempelajari konfigurasi yang paling efektif tombol-tombol kontrol untuk digunakan dalam cockpits pesawat. Banyak penelitian ini melampaui ke peralatan lain dengan tujuan membuat kontrol dan menampilkan lebih mudah bagi operator untuk digunakan. Setelah perang, Angkatan Udara Tentara diterbitkan 19 volume meringkas apa yang telah ditetapkan dari penelitian selama perang.

Perkembangan setelah Perang Dunia II

Dalam 20 tahun awal setelah Perang Dunia II, sebagian besar aktivitas dilakukan oleh para pendiri: Alphonse Chapanis , Paulus Fitts , dan Kecil. Awal perang dingin menyebabkan ekspansi besar Pertahanan didukung laboratorium penelitian. Juga, banyak laboratorium yang didirikan selama perang mulai berkembang. Sebagian besar penelitian setelah perang adalah militer yang disponsori. Uang dalam jumlah besar diberikan kepada universitas untuk melakukan penelitian. Ruang lingkup penelitian ini juga diperluas dari peralatan kecil untuk seluruh workstation dan sistem. Bersamaan, banyak peluang mulai membuka dalam industri sipil. Fokus bergeser dari penelitian untuk partisipasi melalui saran untuk insinyur dalam desain peralatan. Setelah tahun 1965, periode melihat pematangan disiplin. Lapangan telah diperluas dengan pengembangan aplikasi komputer dan komputer.

Didirikan pada tahun 1957, Faktor Manusia dan Ergonomi Masyarakat adalah organisasi terbesar di dunia profesional dikhususkan untuk ilmu faktor manusia dan ergonomi. Misi Masyarakat adalah untuk mempromosikan penemuan dan pertukaran pengetahuan tentang karakteristik manusia yang berlaku untuk desain sistem dan perangkat dari semua jenis.

Siklus Faktor Manusia

Faktor manusia melibatkan studi tentang faktor-faktor dan pengembangan alat-alat yang memfasilitasi pencapaian tujuan tersebut. Dalam arti paling umum, tiga gol faktor manusia dicapai melalui beberapa prosedur dalam siklus faktor manusia, yang menggambarkan operator manusia (otak dan tubuh) dan sistem yang dia berinteraksi. Pertama adalah perlu untuk mendiagnosa atau mengidentifikasi masalah dan kekurangan dalam interaksi manusia-sistem dari sistem yang ada. Setelah mendefinisikan masalah ada lima pendekatan yang berbeda yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan solusi. Ini adalah sebagai berikut:

ü  Peralatan Desain: perubahan sifat dari peralatan fisik yang manusia bekerja.

ü  Tugas Desain: lebih berfokus pada perubahan apa yang operator lakukan dari pada mengubah perangkat yang mereka gunakan. Hal ini mungkin melibatkan menugaskan sebagian atau seluruh tugas untuk pekerja lain atau komponen otomatis.

ü  Desain Lingkungan: mengimplementasikan perubahan, seperti pencahayaan membaik, kontrol suhu dan mengurangi kebisingan di lingkungan fisik di mana tugas tersebut dilakukan.

ü  Pelatihan individu: lebih baik mempersiapkan para pekerja untuk menghadapi kondisi yang ia akan temui di lingkungan kerja dengan mengajar dan mempraktekkan keterampilan fisik atau mental yang diperlukan.

ü  Pemilihan individu: adalah teknik yang mengakui perbedaan individu di seluruh manusia di setiap dimensi fisik dan mental yang relevan untuk kinerja sistem yang baik. Seperti kinerja dapat dioptimalkan dengan memilih operator yang memiliki profil terbaik dari karakteristik untuk pekerjaan.

Ilmu Faktor Manusia

Faktor manusia adalah set manusia-spesifik sifat fisik, kognitif, atau sosial yang baik dapat berinteraksi dengan cara yang kritis atau berbahaya dengan sistem teknologi, lingkungan alam manusia, atau organisasi manusia, atau mereka dapat diambil berdasarkan pertimbangan dalam desain ergonomis manusia-berorientasi pengguna peralatan. Pilihan atau identifikasi faktor manusia biasanya tergantung pada kemungkinan dampak positif maupun negatif mereka pada fungsi manusia-organisasi dan sistem manusia-mesin.

Rekayasa Faktor Manusia

Faktor Manusia Rekayasa (HFE) adalah disiplin menerapkan apa yang diketahui tentang kemampuan manusia dan keterbatasan desain produk, proses, sistem, dan lingkungan kerja. Hal ini dapat diterapkan pada desain semua sistem memiliki antarmuka manusia, termasuk hardware dan software. Aplikasi untuk desain sistem meningkatkan kemudahan penggunaan kepuasan, sistem kinerja dan kehandalan, dan user, sambil mengurangi kesalahan operasional, stres operator, kebutuhan pelatihan, kelelahan pengguna, dan kewajiban produk. HFE yang khas dalam menjadi satu-satunya disiplin yang berhubungan manusia dengan teknologi.

Faktor manusia rekayasa berfokus pada bagaimana orang berinteraksi dengan tugas-tugas, mesin (atau komputer), dan lingkungan dengan pertimbangan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kemampuan. Faktor manusia insinyur mengevaluasi “Manusia untuk Manusia,” “Kelompok Manusia,” “Manusia untuk Organisasi,” dan “Manusia Mesin (Komputer)” interaksi untuk lebih memahami interaksi ini dan untuk mengembangkan kerangka kerja untuk evaluasi.

Faktor Manusia kegiatan rekayasa meliputi:

1)      Kegunaan jaminan

2)      Penentuan profil pengguna yang diinginkan

3)      Pengembangan pengguna dokumentasi

4)      Pengembangan program pelatihan.

Kegunaan jaminan

Jaminan Usability adalah sebuah konsep interdisipliner, mengintegrasikan rekayasa sistem dengan metodologi rekayasa Faktor Manusia. Jaminan kegunaan dicapai melalui sistem atau layanan desain, pengembangan, evaluasi dan penyebaran.

Desain antarmuka pengguna terdiri dari fisik (ergonomis) desain, desain interaksi dan desain tata letak.

Kegunaan pengembangan terdiri integrasi faktor manusia dalam perencanaan proyek dan manajemen, termasuk dokumen spesifikasi sistem: persyaratan, desain dan pengujian.

Kegunaan evaluasi merupakan proses yang berkesinambungan, mulai dengan spesifikasi persyaratan operasional, melalui prototipe dari antarmuka pengguna, melalui alpha kegunaan dan pengujian beta, dan melalui umpan balik manual dan otomatis setelah sistem telah dikerahkan.

Pengguna Interface Design

Interaksi manusia-komputer adalah disiplin berkaitan dengan evaluasi, desain dan implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan manusia dan dengan studi fenomena besar di sekitar mereka. Ini adalah topik terkenal Faktor Manusia dalam bidang Teknik. Ada banyak cara yang berbeda untuk menentukan interaksi manusia komputer di user interface dengan kegunaan pengujian.

Metode Evaluasi Faktor Manusia

Faktor Manusia metode evaluasi adalah bagian dari metodologi Faktor Manusia, yang merupakan bagian dari Teknik Faktor Manusia.  Selain evaluasi, Teknik Faktor Manusia juga berhubungan dengan metode untuk jaminan kegunaan, untuk menilai profil pengguna yang diinginkan, untuk mengembangkan dokumentasi pengguna dan program pelatihan, dll, sampai saat ini, metode yang digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor manusia berkisar dari kuesioner sederhana untuk lebih kompleks dan mahal kegunaan laboratorium.

Baru-baru ini, metode baru yang diusulkan, berdasarkan analisis log dari aktivitas pengguna sistem.  Sebenarnya, pekerjaan di laboratorium kegunaan dan metode baru merupakan bagian dari Teknik Usability, yang merupakan bagian dari Teknik Faktor Manusia.

Ringkasan Singkat Metode Evaluasi Faktor Manusia

Analisis etnografis: Menggunakan metode yang diturunkan dari etnografi , proses ini berfokus pada mengamati penggunaan teknologi dalam lingkungan praktis. Ini adalah metode kualitatif dan pengamatan yang berfokus pada pengalaman “dunia nyata” dan tekanan, dan penggunaan teknologi atau lingkungan di tempat kerja. Proses ini paling baik digunakan pada awal proses desain.

Fokus Grup

Kelompok fokus adalah bentuk lain dari penelitian kualitatif di mana satu individu akan memfasilitasi diskusi dan mendatangkan opini tentang teknologi atau proses dalam penyelidikan. Hal ini dapat secara wawancara 12:59, atau dalam sesi kelompok. Dapat digunakan untuk mendapatkan jumlah besar data kualitatif yang mendalam,  meskipun karena ukuran sampel yang kecil, dapat dikenakan lebih tinggi bias individu. Dapat digunakan pada setiap titik dalam proses desain, sebagai itu sangat tergantung pada pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk dikejar, dan struktur kelompok. Bisa sangat mahal.

Desain iteratif

Juga dikenal sebagai prototipe, proses desain iteratif berusaha melibatkan pengguna pada beberapa tahap desain, dalam rangka untuk memperbaiki masalah ketika mereka muncul. Seperti prototipe muncul dari proses desain, ini adalah sasaran bentuk lain dari analisis sebagaimana dijelaskan dalam artikel ini, dan hasilnya kemudian diambil dan dimasukkan ke dalam desain baru. Tren di antara pengguna dianalisis, dan produk didesain ulang. Ini bisa menjadi proses yang mahal, dan perlu dilakukan sesegera mungkin dalam proses desain sebelum desain menjadi terlalu nyata.

Meta-analisis

Sebuah teknik tambahan yang digunakan untuk memeriksa tubuh macam data yang sudah ada atau sastra dalam rangka untuk memperoleh tren atau hipotesis bentuk dalam rangka untuk membantu keputusan desain. Sebagai bagian dari survei literatur, meta-analisis dapat dilakukan dalam rangka untuk melihat tren kolektif dari variabel individu. [7]

Subjek-di-tandem: Dua subyek diminta untuk bekerja secara bersamaan pada serangkaian tugas sementara bersuara pengamatan analitis mereka. Hal ini diamati oleh peneliti, dan dapat digunakan untuk menemukan kesulitan kegunaan. Proses ini biasanya direkam.

Survei dan Kuesioner

Sebuah teknik yang umum digunakan di luar Faktor Manusia juga, survei dan kuesioner memiliki keuntungan dalam bahwa mereka dapat diberikan kepada sekelompok besar orang untuk biaya yang relatif rendah, memungkinkan peneliti untuk mendapatkan sejumlah besar data. Validitas data yang diperoleh, bagaimanapun, selalu dalam pertanyaan, seperti pertanyaan-pertanyaan harus ditulis dan ditafsirkan dengan benar, dan, menurut definisi, subjektif. Mereka yang benar-benar menanggapi dalam efek self-memilih juga, pelebaran kesenjangan antara sampel dan populasi lanjut.

Tugas analisis

Sebuah proses dengan akar dalam teori aktivitas , analisis tugas adalah cara sistematis menggambarkan interaksi manusia dengan sistem atau proses untuk memahami bagaimana untuk mencocokkan tuntutan sistem atau proses untuk kemampuan manusia. Kompleksitas dari proses ini umumnya sebanding dengan kompleksitas tugas yang dianalisis, sehingga dapat bervariasi dalam biaya dan keterlibatan waktu. Ini adalah proses kualitatif dan pengamatan. Terbaik digunakan pada awal proses desain.

Berpikir keras protokol

Juga dikenal sebagai “protokol lisan bersamaan”, ini adalah proses meminta user untuk mengeksekusi serangkaian tugas atau menggunakan teknologi, sambil terus verbalisasi pikiran mereka sehingga peneliti dapat memperoleh wawasan agar proses analitis pengguna ‘ . Dapat berguna untuk menemukan cacat desain yang tidak mempengaruhi kinerja tugas, tetapi mungkin memiliki kognitif negatif mempengaruhi pada pengguna. Juga berguna untuk memanfaatkan ahli dalam rangka untuk lebih memahami pengetahuan prosedural tugas dalam pertanyaan. Kurang mahal dari kelompok fokus, tetapi cenderung lebih spesifik dan subjektif.

Analisis Pengguna

Proses ini didasarkan sekitar merancang untuk atribut dari pengguna atau operator dimaksud, menetapkan karakteristik yang mendefinisikan mereka, menciptakan sebuah persona bagi pengguna. Terbaik dilakukan pada awal proses desain, analisis pengguna akan mencoba untuk memprediksi pengguna yang paling umum, dan karakteristik yang mereka akan diasumsikan memiliki kesamaan. Hal ini dapat bermasalah jika konsep desain tidak cocok dengan pengguna yang sebenarnya, atau jika diidentifikasi terlalu samar untuk membuat keputusan desain jelas dari. Proses ini, bagaimanapun, biasanya cukup murah, dan umum digunakan.

“Wizard of Oz”: Ini adalah teknik yang relatif jarang terjadi tetapi telah melihat beberapa digunakan dalam perangkat mobile. Berdasarkan Wizard of Oz eksperimen , teknik ini melibatkan operator yang jauh mengontrol operasi perangkat dalam rangka untuk meniru respon dari program komputer yang sebenarnya. Ini memiliki keuntungan dari memproduksi serangkaian reaksi yang sangat berubah, tetapi dapat cukup mahal dan sulit untuk melakukan.

Masalah dengan Metode Faktor Manusia

Masalah dalam bagaimana tindakan kegunaan digunakan mencakup:

1)      langkah-langkah pembelajaran dan retensi bagaimana menggunakan interface ini jarang digunakan selama metode dan

2)      beberapa studi memperlakukan langkah-langkah bagaimana pengguna berinteraksi dengan interface sebagai sinonim dengan kualitas-di-gunakan, meskipun hubungan tidak jelas.

Kelemahan Pengujian Usability Lab

Meskipun kegunaan pengujian laboratorium diyakini menjadi metode evaluasi yang paling berpengaruh, itu memang memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan ini meliputi:
(1) Sumber daya tambahan dan waktu daripada metode lainnya
(2) Biasanya hanya memeriksa sebagian kecil dari segmen seluruh pasar
(3) Uji lingkup terbatas tugas sampel dipilih
(4) jangka panjang kemudahan penggunaan masalah sulit untuk mengidentifikasi
(5) Mei hanya mengungkapkan sebagian kecil dari total masalah
(6) pengaturan Laboratorium termasuk faktor-faktor yang tempat lingkungan operasional pada kegunaan produk

Kelemahan Metode Pemeriksaan

Inspeksi metode (ahli ulasan dan walkthrough) dapat dilakukan dengan cepat, tanpa sumber daya dari luar tim pengembangan, dan tidak membutuhkan keahlian penelitian yang tes kegunaan butuhkan. Namun, metode pemeriksaan memiliki keterbatasan, yang meliputi:

1)      Jangan biasanya langsung melibatkan pengguna

2)      Sering tidak melibatkan pengembangan

3)      Set up untuk menentukan masalah dan bukan solusi

4)      Jangan mendorong solusi inovasi atau kreatif

5)      Tidak baik untuk membujuk pengembang untuk membuat perbaikan produk

Kelemahan Survei, Wawancara, dan Kelompok Fokus

Ini faktor manusia tradisional metode telah disesuaikan, dalam banyak kasus, untuk menilai kegunaan produk. Meskipun ada beberapa survei yang disesuaikan untuk kegunaan dan yang telah membentuk validitas di lapangan, metode ini memiliki beberapa keterbatasan, yang meliputi:

1)      Keandalan dari semua survei yang rendah dengan ukuran sampel yang kecil (10 atau kurang).

2)      Wawancara membatasi panjang digunakan untuk ukuran sampel yang kecil.

3)       Penggunaan kelompok fokus untuk penilaian kegunaan memiliki nilai sangat diperdebatkan

4)      Semua metode ini sangat tergantung pada responden

Kelemahan Metode Lapangan

Meskipun metode lapangan dapat sangat berguna karena dilakukan di lingkungan pengguna alami, mereka memiliki beberapa keterbatasan utama untuk dipertimbangkan. Keterbatasan meliputi:

1)        Biasanya memakan waktu lebih dan sumber daya daripada metode lainnya

2)        Sangat tinggi upaya dalam perencanaan, perekrutan, dan melaksanakan daripada metode lain

3)        periode studi Lebih lama dan karena itu membutuhkan niat baik di antara para peserta

4)        Studi yang membujur di alam, oleh karena itu, gesekan bisa menjadi masalah.

Aplikasi Real World Faktor Manusia – Antarmuka Multimodal

Multi-Modal Antarmuka

Dalam banyak domain dunia nyata, komunikasi yang tidak efektif terjadi sebagian karena presentasi yang tidak tepat dan tidak efektif informasi. Banyak interface dunia nyata baik memungkinkan input pengguna dan memberikan output pengguna dalam suatu modalitas tunggal (paling sering menjadi baik visual atau auditori). Presentasi ini modalitas tunggal sering dapat menyebabkan overload data dalam modalitas yang menyebabkan pengguna untuk menjadi kewalahan oleh informasi dan menyebabkan dia / nya untuk mengabaikan sesuatu. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan antarmuka multi-modal.

Alasan Menggunakan Antarmuka Multimodal

  • Berbagi Waktu – membantu menghindari kelebihan satu modalitas tunggal
  • Redundansi – memberikan informasi yang sama dalam dua modalitas yang berbeda membantu memastikan bahwa pengguna akan melihat informasi
  • Memungkinkan untuk keragaman lebih dalam pengguna (buta dapat menggunakan input taktil; gangguan pendengaran dapat menggunakan masukan visual dan output)
  • Kesalahan Pencegahan – memiliki beberapa modalitas memungkinkan pengguna untuk memilih modalitas yang paling tepat untuk setiap tugas (misalnya, tugas-tugas spasial
  • yang terbaik dilakukan dalam modalitas visual dan akan menjadi lebih sulit dalam modalitas penciuman)

 Contoh Well Known Multi-Modalitas Antarmuka

  •  Telepon Seluler – Telepon seluler rata-rata menggunakan pendengaran, visual, taktil dan output melalui penggunaan telepon berdering, bergetar, dan layar visual caller ID.
  • ATM – Kedua pendengaran dan output visual yang

 Multi-Modal Awal Antarmuka oleh Ahli

  • Baut “Masukan Itu Ada” – 1980 – pidato digunakan dan menunjuk manual
  • Cohen dan Oviatt itu “pagar dr tanaman” – pidato pengguna multi dan masukan isyarat

Keselamatan dan Kesehatan Pekerja

Salah satu jenis yang paling umum yang berhubungan dengan pekerjaan cedera gangguan muskuloskeletal. Pekerjaan yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal (WRMDs) mengakibatkan rasa sakit terus-menerus, kehilangan kapasitas fungsional dan cacat bekerja, tetapi diagnosis awal mereka adalah sulit karena mereka terutama didasarkan pada keluhan nyeri dan gejala lainnya. Setiap tahun 1,8 juta US dialami pekerja WRMDs dan hampir 600.000 dari cedera cukup serius untuk menyebabkan pekerja kehilangan pekerjaan, pekerjaan tertentu atau kondisi kerja yang menyebabkan keluhan pekerja tingkat yang lebih tinggi dari ketegangan yang tidak semestinya, kelelahan lokal, ketidaknyamanan, atau nyeri yang tidak hilang setelah istirahat semalam . Jenis pekerjaan sering melibatkan kegiatan seperti pengerahan tenaga berulang dan kuat; sering, lift berat, atau overhead; posisi kerja canggung;. Atau menggunakan peralatan bergetar.

Para Keselamatan dan Kesehatan Administration (OSHA) telah menemukan bukti substansial bahwa program ergonomi dapat memotong biaya kompensasi pekerja, meningkatkan produktivitas dan penurunan omset karyawan. Oleh karena itu, penting untuk mengumpulkan data untuk mengidentifikasi pekerjaan atau kondisi kerja yang paling bermasalah, menggunakan sumber seperti cedera dan log sakit, catatan medis , dan pekerjaan analisis.

 Analisis pekerjaan dapat dilakukan dengan menggunakan metode analisis, studi waktu, pengambilan sampel pekerjaan , atau sistem kerja lainnya dibentuk pengukuran.

Metode Analisis adalah proses mempelajari tugas pekerja menyelesaikan penyelidikan menggunakan langkah-demi-langkah. Setiap tugas dalam dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih kecil sampai setiap gerak pekerja melakukan dijelaskan. Melakukan sehingga memungkinkan Anda untuk melihat secara tepat di mana tugas yang berulang atau mengejan terjadi.

Studi Waktu menentukan waktu yang dibutuhkan untuk seorang pekerja untuk menyelesaikan setiap tugas. Studi Waktu sering digunakan untuk menganalisis pekerjaan siklus.

Mereka dianggap “berbasis peristiwa” studi karena pengukuran waktu yang dipicu oleh terjadinya peristiwa yang telah ditentukan.

Sampling pekerjaan adalah metode di mana pekerjaan adalah sampel pada interval acak untuk menentukan proporsi dari total waktu yang dihabiskan untuk tugas tertentu. Hal ini memberikan wawasan tentang seberapa sering para pekerja melakukan tugas-tugas yang dapat menyebabkan ketegangan pada tubuh mereka.

Sistem waktu yang ditentukan adalah metode untuk menganalisis waktu yang dihabiskan oleh para pekerja pada tugas tertentu. Salah satu sistem waktu yang paling banyak digunakan telah ditentukan disebut Metode-Waktu Pengukuran atau MTM. Sistem kerja umum lainnya termasuk pengukuran MODAPTS dan PALING.

Perencanaan E-Voting

2 December, 2010

Penggunaan voting sebagai media untuk mencari keputusan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak telah dimulai sejak lama. Dalam pelaksanaannya, banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian golongan masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik di masyarakat, serta menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pihak penyelenggara voting dan pihak pemenang voting tersebut. Penggunaan teknologi informasi dalam proses voting diharapkan dapat membantu penyelesaian masalah-masalah tersebut. Akan tetapi, apakah e-Voting merupakan solusi yang tepat untuk diimplementasikan di Indonesia?, atau masih diperlukan banyak pembenahan sebelum implementasi e-Voting tersebut berhasil dilaksanakan di Indonesia.

1. Pendahuluan

Voting telah menjadi salah satu metode untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan manusia. voting digunakan mulai dari tingkat masyarakat terkecil, yaitu keluarga, sampai dengan sebuah negara. voting digunakan untuk menghimpun aspirasi dari seluruh elemen masyarakat, dan kemudian menemukan jalan keluar yang dianggap paling baik untuk menyelesaikan permasalahan. voting memiliki banyak tipe pelaksanaan, [2] menjelaskan mengenai tipe-tipe pelaksanaan voting dan ilustrasi pelaksanaannya. Dalam negara yang menganut sistem politik demokrasi, voting digunakan untuk mengambil keputusan negara yang sangat krusial, antara lain adalah untuk memilih wakil-wakil rakyat, atau untuk memilih pemimpin negara yang baru. Akan tetapi, tidak seluruh warga negara dapat memberikan suara mereka dalam voting. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh warga negara tersebut untuk mendapatkan haknya, dan negara wajib untuk melindungi warga negara tersebut dalam memberikan suaranya. Oleh karena itu, voting membutuhkan prosedur pelaksanaan yang dapat menjamin kerahasiaan dan keabsahan dari hasil pelaksanaan voting tersebut.

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah membawa perubahan yang besar bagi manusia, termasuk cara untuk melaksanakan voting. Penggunaan teknologi komputer pada pelaksanaan voting ini dikenal dengan istilah electronic voting atau lazim disebut dengan e-Voting.

2. Sistem Voting Konvensional

Dari penjelasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa voting adalah kegiatan yang memiliki resiko yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan banyak kepentingan yang tercakup didalamnya. Prosedur pelaksanaan voting telah diatur agar kerahasiaan dan keabsahan dari proses pemungutan suara tersebut dapat terjaga, sehingga tidak akan terjadi kontroversi mengenai hasil voting tersebut. Secara garis besar, voting dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu pendaftaran para pemilih, pemungutan suara dan penghitungan hasil. Dalam sistem voting standar, pada masing-masing tahapan masih menggunakan proses manual dengan menggunakan banyak tenaga manusia dalam melaksanakan tahapan-tahapan tersebut.

Dalam pelaksanaan voting, sering terjadi kesalahankesalahan yang disebabkan oleh human error, atau disebabkan karena sistem pendukung pelaksanaan voting yang tidak berjalan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan voting di Indonesia selama ini:
• Banyak terjadi kesalahan dalam proses pendaftaran pemilih. Kesalahan ini terjadi karena sistem kependudukan yang masih belum berjalan dengan baik. Konsep penggunaan banyak kartu identitas menyebabkan banyaknya pemilih yang memiliki kartu suara lebih dari satu buah. Keadaan ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meningkatkan jumlah suara pilihannya sehingga dapat memenangkan voting tersebut.
• Pemilih salah dalam memberi tanda pada kertas suara, karena ketentuan keabsahan penandaan yang kurang jelas, sehingga banyak kartu suara yang dinyatakan tidak sah. Pada tahapan verifikasi keabsahan dari kartu suara, sering terjadi kontroversi peraturan dan menyebabkan konflik di masyarakat.
• Proses pengumpulan kartu suara yang berjalan lambat, karena perbedaan kecepatan pelaksanaan pemungutan suara di masing-masing daerah. Penyebab lainnya adalah kesulitan untuk memeriksa keabsahan dari sebuah kartu suara, sehingga pengumpulan tidak berjalan sesuai dengan rencana.
• Proses penghitungan suara yang dilakukan di setiap daerah berjalan lambat karena proses tersebut harus menunggu semua kartu suara terkumpul terlebih dahulu. Keterlambatan yang terjadi pada proses pengumpulan, akan berimbas kepada proses penghitungan suara. Lebih jauh lagi, proses tabulasi dan pengumuman hasil perhitungan akan meleset dari perkiraan sebelumnya.
• Keterlambatan dalam proses tabulasi hasil penghitungan suara dari daerah. Kendala utama dari proses tabulasi ini adalah kurangnya variasi metode pengumpulan hasil penghitungan suara. Hal ini disebabkan oleh masih lemahnya infrastruktur teknologi komunikasi di daerah. Oleh karena itu, seringkali pusat tabulasi harus menunggu data penghitungan yang dikirimkan dari daerah dalam jangka waktu yang lama. Akibat dari hal tersebut, maka pengumuman hasil voting akan memakan waktu yang lama.
• Permasalahan yang terpenting adalah kurang terjaminnya kerahasiaan dari pilihan yang dibuat oleh seseorang. Banyak pemilih mengalami tekanan dan ancaman dari pihak tertentu untuk memberikan suara mereka kepada pihak tertentu. Lebih buruk lagi, terjadi “jual-beli suara“ di kalangan masyarakat tertentu, sehingga hasil voting tidak mewakili kepentingan seluruh golongan masyarakat. Permasalahan-permasalahan diatas akan menimbulkan kontroversi terhadap keabsahan hasil voting dan memicu munculnya konflik antara golongan masyarakat yang memiliki perbedaan kepentingan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ketidakpuasan terhadap hasil voting dapat mengakibatkan pertumpahan darah diantara golongan masyarakat. Penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaan voting diharapkan dapat mengurangi tingkat kesalahan yang muncul selama ini. Dengan demikian potensi terjadinya konflik dalam masyarakat dapat dihindari. Harapan ini yang menyebabkan besarnya desakan untuk menggunakan bantuan komputer dalam pelaksanaan voting.

3. Electronic Voting (e-Voting)

Pengertian dari electronic voting (e-Voting) secara umum adalah penggunaan teknologi komputer pada pelaksanaan voting, menjelaskan secara umum sejarah, jenis Electronic Voting, keuntungan dan kerugian dalam penggunaannya. Pilihan teknologi yang digunakan dalam implementasi dari e-Voting sangat bervariasi, seperti penggunaan smart card untuk otentikasi pemilih, penggunaan internet sebagai sistem pemungutan suara, penggunaan touch screen sebagai pengganti kartu suara, dan masih banyak variasi teknologi yang digunakan. Penerapan e-Voting telah berjalan di beberapa negara di benua Eropa dan Amerika. Masing-masing negara memiliki sistem e-Voting tersendiri yang telah disesuaikan dengan keadaan dan infrastruktur yang dimiliki negara tersebut. Sebagai contoh, negeri Belanda memiliki sistem e-Voting yang dinamakan RIES (Rijnland Internet Election System). Sistem ini menggunakan internet sebagai media pengumpulan suara. Dan menjelaskan detil sistem tersebut dan melakukan analisis terhadap mekanisme pemungutan suara dalam sistem RIES. Walaupun sistem e-Voting memberikan banyak keuntungan bagi manusia dalam melaksanakan pemungutan suara, terdapat beberapa permasalahan yang muncul akibat dari implementasi sistem ini:
• Tingkat keamanan sistem e-Voting, melakukan analisis terhadap bagian dari salah satu sistem e-Voting yang cukup banyak digunakan, yaitu Diebold System, dan ternyata sistem tersebut memiliki beberapa kelemahan dalam keamanannya.
• Penggunaan internet yang sangat rentan dengan gangguan dari luar. Muncul dugaan bahwa dapat terjadi perubahan data hasil pemungutan suara. Untuk itu, penggunaan algoritma enkripsi dalam e-Voting mulai dianjurkan. Salah satunya, yang menerangkan algoritma enkripsi yang sebaiknya digunakan dalam proses pengiriman data hasil pemungutan suara dalam e-Voting.
• Penggunaan perangkat lunak yang tidak dapat diaudit oleh publik. Kekhawatiran yang muncul adalah adanya kecurangan yang dapat memanipulasi hasil pemungutan suara.
Masalah-masalah diatas mengakibatkan terjadinya kontroversi terhadap keabsahan hasil penghitungan suara, yang menyebabkan implementasi e-Voting tidak efektif, karena menghasilkan permasalahan yang sama dengan sistem voting standar. Untuk mengatasi permasalahan itu, maka diperlukan sebuah standar yang mengatur tentang pelaksanaan e-Voting dan mengajukan 9 (sembilan) persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem e-Voting.

4. E-Voting di Indonesia

Untuk melakukan implementasi e-Voting di Indonesia, dibutuhkan banyak pembenahan dalam bidang kehidupan. Pembenahan tersebut harus dimulai dengan memperbaiki sistem pendidikan, agar tingkat pengetahuan masyarakat mengenai teknologi informasi menjadi lebih baik. Masalah lain yang cukup serius harus dilakukan pada infrastruktur teknologi yang dimiliki saat ini, agar pelaksanaan e-Voting tidak sia-sia. Pembenahan lain juga perlu dilakukan terhadap sistem pendukung pelaksanaan voting, misalnya perbaikan terhadap sistem pencatatan kependudukan. Hal ini akan memudahkan tahapan pendataan warga negara yang berhak memberikan suaranya. Pembenahan-pembenahan ini harus dilakukan sesegera mungkin, mengingat besarnya peranan teknologi informasi dalam kehidupan kita. Jika mengalami ketertinggalan dalam teknologi informasi, maka Indonesia akan menghadapi kesulitan dalam persaingan dengan negara-negara lain.

5. E-Voting dalam Kacamata Kebijakan dan Pengawasan
“E-voting merupakan sebuah sistem yang memanfaatkan perangkat elektronik dan mengolah informasi digital untuk membuat surat suara, memberikan suara, menghitung perolehan suara, menayangkan perolehan suara dan memelihara serta menghasilkan jejak audit. Dibandingkan dengan pemungutan suara konvensional, e-voting menawarkan beberapa keuntungan”, kata Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (Centro), Hadar Gumay dalam Dialog Nasional PemanfaatanE-voting untuk Pemilu di Indonesia Tahun 2014, Rabu 19 Mei 2010 lalu di BPPT.
Lebih lanjut Hadar menegaskan bahwa dengan e-voting dapat menciptakan pemilu kedepannya lebih efektif dan efisien. Didalame-voting, terdapat pula beberapa hal yang perlu diterapkan agar memenuhi unsur jujur dan transparan. “Sebenarnya, yang terpenting dan mendasar dalam tahapan pemilu e-voting ini adalah harus adanya kepercayaan terhadap proses dan hasilnya dari berbagai stakeholder. Sehingga alat yang akan digunakan harus melalui proses sertifikasi yang dilakukan secara transparan. Kemudian dilakukan uji coba yang disaksikan oleh beberapa saksi”.
Berbicara mengenai konteks elektronisasi pemilu atau otomatisasi pemilu, ada banyak unsur yang melibatkan teknologi digunakan di setiap pemilu, misalnya pada registrasi online, untuk menghindari identitas ganda dan ghost voters. “Problem terbesar yang ada dalam pemilu sebenarnya bukan pada pada voting tetapi counting, karena masalah terbesar dari pemilu tahun 2009 lalu adalah distorsi hasil pemilu. Jika teknologi ini digunakan diharapkan masalah counting tersebut yang harus diselesaikan dahulu. Dengan mengurangi campur tangan manusia memungkinkan yang dapat merubah angka hasil pemilu, disinlah e-voting dapat jauh lebih bermanfaat”, terang anggota Bawaslu, Bambang Cahya Widodo pada kesempatan yang sama.
Mengenai persoalan teknis, Bambang menjelaskan bahwa baik e-voting maupun e-counting hanya bisa mengurangi jumlah manusia yang terlibat bukan mengurangi peranan manusia, dan problemnya tidak hanya menyiapkan teknologinya saja, tetapi juga mempersiapkan sumberdaya manusianya dalam jumlah yang besar.
Sementara jika dilihat dari potensi manfaat penerapan teknologi untuk pemilu, dapat dilihat dari berbagai segi, misalnya kemudahan, kecepatan, dan dapat mengurangi resiko kecurangan. “Intinya E-voting ini harus dapat meningkatkan kualitas. Artinya, semua penduduk harus melakukan pemilihan dan tidak ada yang memilih lebih dari satu kali kali, serta dapat meminimalkan anggaran pemilu”, tegas Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri, Irman.

Landasan Hukum E-voting
Salah satu titik awal penting bagi pengembangan landasan hukum pelaksanaan e-voting dalam pemilu adalah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Untuk menindak lanjuti keputusan Mahkamah Agung (MA) agar e-voting dapat diimplementasikan penggunaannya pada pemilu 2014, dibutuhkan kebijakan-kebijakan, serta aturan dan regulasi yang jelas dan tegas yang mengatur penggunaan e-voting dalam pemilu.

“Syarat yang harus dipenuhi dalam penerapan e-voting adalah penggunaan e-KTP yang dilengkapi dengan sidik jari dan chip. Melalui penggunaan e-KTP ini diharapkan sudah tidak ada lagi peluang pemilih ganda dan warga negara yang berhak memilih tapi tidak terkoordinir atau tidak terdaftar”, jelas Wakil ketua I komisi II DPR, Taufiq Effendi.
Selain adanya regulasi dan keputusan dari MK, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Jimly Asshidiqie mengatakan setidaknya terdapat empat hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan penerapan e-voting nanti. “Mulai dari persiapan personil penyelenggara dan peserta, persiapan data kependudukan, persiapan teknis terkait dengan teknologi serta persiapan dari masyarakat, sudah harus siap sebelum kita melangkah lebih jauh”, imbuhnya.
“Bagaimana masyarakat mempersiapkan diri atau bagaimana kita menyiapkannya agar masyarakat dapat melakukan e-voting?”, tanya Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary. Menurutnya dalam hal ini, diperlukan pelatihan terlebih dahulu sebelum benar-benar melaksanakan e-voting. “E-voting ini adalah teknologi baru di Indonesia. Jadi yang utama adalah kesiapan dari masyarakat yang akan melaksanakan ini”. (KYRA/humas).