Sejauhmana pelaksanaan word class university

Cukup indah istilah yang didengungkan pemerintah tentang kenaikan derajat perguruan tinggi, semula pemain lokal alias jago kandang sekarang harus bertempur dengan universitas luar negeri.

Kebijakan boleh dikeluarkan tetapi analisis proses patut dipersiapkan dengan matang. Apa istilah word class university, jangan-jangan hanya sekedar jargon atau isu-isu politik saja.

Inilah wajah pendidikan kita yang belum terukur, sistem akreditasipun perlu dipertanyakan sejauhmana konsistensinya. jangan-jangan hal ini hanya sekedar formalitas

ini sedikit sy cuplik dari kebijakan pemerintah

Program-program penguatan mutu yang dijalankan, antara lain adalah :

a.    Pengembangan Quality Assurance (QA).

Pengembangan QA dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya mutu di perguruan tinggi. Peningkatan mutu secara berkelanjutan (Continues Quality Improvement) dan sekaligus mendorong perguruan tinggi menuju World Class University (WCU). Kegiatan QA diawali dengan diterbitkannya buku Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi tahun 2003 yang kemudian dilengkapi dengan Best Practices berbagai elemen mutu. Sampai tahun 2005 telah diselesaikan 10 Best Practices yaitu Proses Pembelajaran, Kurikulum dan Program Studi, Sumber Daya Manusia, Kemahasiswaan, Prasarana dan Sarana, Suasana Akademik, Pengelolaan Keuangan, Penelitian dan Publikasi, Pengabdian Pada Masyarakat, dan Tata Kelola.

Panduan-panduan ini telah disosialisasikan kepada pimpinan PTN dan Kopertis Wilayah I – XII dalam Rapat Kerja di Yogyakarta Nopember 2005, selain dalam pelatihan-pelatihan QA yang dilaksanakan. Sampai tahun 2006 700 perguruan tinggi yang telah  ikut pelatihan QA, dan juga diadakan Lokakarya QA bagi 82 PTN. Tahap awal pengembangan QA (awareness to increase quality) ini perlu dilanjutkan dengan tahap implementasi.

Tahun 2006 telah disusun Panduan Pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Bidang Akademik dan Pedoman Pengelolaan Standar Mutu Perguruan Tinggi.

Untuk lebih mendorong implementasi QA tahun 2007 selain melatih 320 perguruan tinggi (yang belum dilatih tahun 2006) juga dilaksanakan Pelatihan AMAI (Audit Mutu Akademik Internal) untuk 480 perguruan tinggi. Pelatihan ini merupakan tingkat lanjutan dari pelatihan QA karena pesertanya adalah yang pernah mengikuti pelatihan QA.

Dengan demikian, sampai tahun 2007 sosialisasi QA dalam bentuk pelatihan mencapai 1.020 perguruan tinggi dan 480 diantaranya sudah mengikuti Pelatihan AMAI.

Tahun 2008 pelatihan AMAI dilanjutkan untuk 480 perguruan tinggi yang pernah mengikuti pelatihan QA pada tahun 2007, dan juga dilaksanakan secara selektif Intensive Technical Assistance kepada 120 perguruan tinggi. Selanjutnya 60 perguruan tinggi di antaranya akan dipublikasikan menjadi perguruan tinggi yang dinilai baik implementasi QA-nya sebagai pencitraan publik.

b.    Pengembangan Perpustakaan

Pengembangan perpustakaan diarahkan untuk memperkuat mutu layanan dengan mengadopsi perkembangan ICT yang begitu pesat, digital library dan dapat mendorong perguruan tingginya mencapai WCU.

Diawali dengan penyusunan dan sosialisasi Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2005), Penyusunan SOP Perpustakaan (2006), Seminar Internasional (50 PT), Digital Library Workshop (100 PT).

Tahun 2008 dilaksanakan Digital Library Technical Assistance untuk 120 PT, 60 diantaranya akan dipublikasikan sebagai perpustakaan perguruan tinggi yang potensial untuk mendorong ke tingkat global.

c.     Standar Minimal Laboratorium (SML)

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 35 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 telah disusun Standar Minimal Laboratorium (SML). Sampai dengan akhir tahun 2007 telah disusun 15 bidang studi. Penyusunan diawali tahun 2004 dengan bidang studi Fisika, Teknik Elektro, Teknik Sipil, dan Teknologi Pertanian.

Tahun 2005 telah disusun SML untuk bidang studi Teknik Mesin, Teknik Industri, Arsitektur, Biologi, dan Matematika.

Tahun 2006 telah disusun SML untuk bidang studi Teknik Kimia, Teknik Informatika, Akuntansi, Farmasi, Ilmu Komunikasi, dan Perikanan.

Tahun 2007 telah tersusun draf SML untuk bidang studi Teknik Pertambangan, Teknik Lingkungan, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Psikologi, dan Statistika.

Di samping SML juga telah disusun dan disosialisasikan secara bertahap SOP Laboratorium.

Sasaran dari pembinaan laboratorium ini adalah agar laboratorium perguruan tinggi dapat menjaga dan meningkatkan:

          Keberlangsungan

          Kualitas Kemanfaatan

          Pengembangan Laboratorium ( baik untuk Teaching, Research dan Income Revenue)

Penyusunan SML lebih diprioritaskan pada bidang-bidang yang kompetensi lulusannya dinilai akan sangat bergantung pada kualitas praktikumnya.”

 

Dari catatan diatas ada beberapa pertanyaan

1. Sejauhmana proses standardisasi perguruan tinggi?

2. Sudahkah pemerintah peduli terhadap perguruan tinggi selain negeri?

3. Sudahkah pemerintah melihat kondisi real perguruan tinggi selain negeri?

4. Sudahkan pemerintah berpikir bagaimana pendidikan kita 50 tahun kedepan?

5. Sudahkan pemerintah membangun jaringan hasil dari lulusannya yang dapat diukur secara skill

6. Sudahkah berkualitas tim manajemen pemerintah yang menangani perguruan tinggi?

7. Apa indikator word class university?, jangan-jangan targetnya sekedar ikut olimpiade terus pamer kemenangan, apakah itu nilai-nilai pendidikan kita?

 

ini adalah PR kita semua dan mulai lah kita melakukan sesuatu yang kita bisa, meskipun pemerintah agak sedikit cukup lamban dalam menangani isu-isu dimasyarakat.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: